Saya Adalah Seorang Blogger Yang Menulis Untuk Anda dan Berusaha Menyajikan Info Yang Terbaik

Bisnis Seks GIGOLO

Penulis : Pada Hari : Thursday, March 18, 2010 | Jam : 11:17 AM

Salah satu bisnis yang tidak pernah mati adalah bisnis seks. Para Pekerja Seks Komersial (PSK) kini bukan hanya wanita semata, tetapi juga pria. Tempatnya pun kini bukan hanya di Ibukota melainkan sudah bergeser ke kota besar lainnya di Tanah Air.



Para gigolo telah memperluas daerah bisnis mereka, dan kali ini sudah merambah ke Kota Surabaya, Jawa Timur yang menjadi salah satu kota tujuan. Bisnis esek-esek beromzet milyaran rupiah per hari di Gang Dolly Surabaya telah membuat para gigolo juga meluaskan jaringan bisnis mereka ke Surabaya.



Tetapi tidak kalah cepat, satuan polisi dari Reserse Polresta Tanjung Perak Surabaya pun bergerak menggulung beberapa sindikat PSK laki-laki atau gigolo dengan cara menyamar. Penyamaran polisi berhasil, dua makelar atau broker para gigolo digelandang ke kantor polisi. Para makelar itu mengakui perbuatannya dan ternyata klien para gigolo kebanyakan bukanlah para wanita.



Saat dimintai keterangan, mucikari para gigolo asal Karawang, Jawa Barat tersebut berdalih menjalankan bisnis tersebut lantaran kesulitan ekonomi. Tersangka kemudian tetap dijerat oleh polisi dengan pasal perdagangan orang dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.



Kendati demikian, polisi masih berfokus pada sang mucikari dan makelar, sehingga sang gigolo yang juga ikut ditangkap polisi belum dijadikan tersangka dan hanya wajib lapor. Dari keterangannya kepada Tim Sigi SCTV, para gigolo mengaku punya banyak klien dari orang biasa sampai orang terkenal.



Dari data-data yang diperoleh, jelas terlihat jika jaringan gigolo sudah banyak bermain di Surabaya. Kendati demikian, masih banyak yang belum terungkap polisi. Bahkan yang baru ditangkap adalah gigolo yang masih menjual diri dengan harga kurang dari Rp 500 ribu. Namun demikian, setelah ditelusuri lebih jauh, di Kota Pahlawan kembali ditemukan seorang gigolo yang masih aktif menjual diri dengan tarif minimal Rp 1 juta dan sudah menggeluti bisnis tersebut sejak di bangku sekolah menengah pertama.



Lagi-lagi alasannya adalah kesulitan ekonomi. Para gigolo kemudian memasang jerat, mulai dari cafe-cafe dan mall seperti mereka mencari mangsa menggunakan kode tertentu bagi konsumen sang gigolo. Caranya unik yakni dengan menaruh korek dengan posisi berdiri di atas bungkus rokok sambil sedikit dimainkan. Kalau kode sudah diterima dan komununikasi terjalin lancar, maka konsumen dari beragam profesi, beragam jenis kelamin, dan beragam status sosial pun bisa kena jerat sang gigolo.



Tak jauh berbeda dengan bisnis prostitusi gigolo di Semarang, Jawa Tengah. Di beberapa taman dan cafe di kota tersebut, Tim Sigi mendapati beberapa PSK pria atau gigolo sudah mulai memasang jerat. Kode-kode khusus pun dikirimkan para gigolo pada konsumennya.



Dalam menjaring mangsanya, para gigolo tidak selalu terjun langsung ke tempat umum. Kemajuan teknologi informasi juga telah digunakan para gigolo. Dunia maya juga dirambah dengan memanfaatkan situs jejaring sosial seperti www.manjam.com yang khusus dibuat oleh para gigolo.



Setelah konsumen didapat, diikuti dengan pertemuan langsung, cafe atau hotel biasanya dijadikan tempat favorit untuk melakukan penawaran. Transaksi kemudian ditutup dengan berhubungan seks di tempat yang telah disepakati. Salah satu tempat yang kerap disebut sebagai persinggahan para gigolo yaitu sebuah rumah di daerah Pos Ponjolo.



Di rumah tersebut ada seorang yang disebut mbah yakni satu dari broker gigolo di Semarang, Jateng. Biasanya, untuk setiap satu gigolo yang dipasoknya, mbah mendapat uang jasa 20 persen dari transaksi yang disepakati. Dan, para broker memburu laki-laki muda atau dikenal dengan istilah kuching.



Setelah target didapat, korban langsung dibawa ke tempat penampungan milik sponsor. Oleh sponsor, korban dibawa ke salon untuk diubah dandanannya. Barulah korban dibawa ke para pemesan yang ada di kota tersebut atau pun di kota lain. Bisnis seks yang dilakukan pria-pria muda alias brondong sebenarnya bukan lagi hal baru. Belakangan, mata rantai bisnis pemuas syahwat ini bahkan kian luas. Ada yang menjajakan dengan transparan layaknya PSK wanita, ada juga yang dilakuan secara sembunyi-sembunyi, dan yang paling mutakhir, para gigolo menggunakan dunia maya. Kendati demikian, masih banyak juga yang mengandalkan broker atau makelar yang mencarikan tante atau oom-oom yang membutuhkan jasa gigolo.



Dalam beraksi, para gigolo tidak hanya melayani tante girang saja, tapi juga melayani oom laki-laki senang. Di Jawa Tengah sendiri, diperkirakan sekitar 70 persen gigolo melayani oom laki-laki senang dan sisanya 30 persen "menservis" tante girang.



Lika-liku kehidupan para gigolo muda alias para brondong kini kembali diangkat ke layar lebar dalam film bergenre komedi bertajuk "Arisan Brondong". Kenyataan yang diangkat di film tersebut ternyata dibenarkan oleh para gigolo yang ditemui langsung Tim Sigi yang mengaku pernah terlibat dalam arisan brondong. Alasan ekonomi inilah yang dalam dunia nyata terbukti menjadi pemicu utama menjamurnya gigolo-gigolo muda.



Menurut pemerhati masalah sosial, sepak terjang gigolo sangat sulit dihilangkan, maka tidak heran kalau bisnis seks adalah bisnis yang tidak pernah mati. Jaringan penjualan gigolo antarkota antarprovinsi masih tetap terjadi kendati polisi telah membongkar sindikat para gigolo. Transaksi tersembunyi pun masih banyak terjadi.



Tak bisa dipungkiri, bisnis prostitusi kini tak lagi didominasi kaum hawa. Karena Rupiah, siapa saja bisa menjadi korban yang terjebak di lembah hitam tak terkecuali para remaja gigolo yang kini merambah antarkota antarprovinsi

(kutip/liputan6sctv)

No comments:

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Aapaa.. Aja Yang Saudara Suka, Baik dan Buruk Akan Saya Terima!!!

Search

Artikel Lainnya


Arsip Blog